Kepergian Naya

Posted by Rulfhi Pratama on 2:58:00 AM with No comments

Sebelum membaca cerita dibawah ini, disunahkan untuk membaca dulu cerita dengan judul Kamu Datang dan Pergi Terlalu Cepat. Biar lebih nyambung bacanya siapa tahu udah nyambung mah bisa dibawa ke jenjang yang lebih serius. 

Hari ini akhirnya tiba juga; saat Raya harus rela ditinggal Naya untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Bisa jadi Raya akan ditinggalkan dengan berhari-hari, bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun atau mungkin Naya tak akan kembali. Kepergian Naya ini sangatlah mengejutkan Raya. Hanya berselang satu minggu sebelum Naya pergi, ia mengabari Raya.

Ia kira Naya hanya bergurau soal kepergiannya. Tenyata dia benar-benar serius. Saat itu waktu terasa terhenti sejenak. Raya tak bisa berkata apa-apa. Harus diakui pertemuan mereka memang terlalu singkat. Tapi setiap kejadian bersama yang mereka lalui akan selalu hidup dalam ingatan Raya. Naya memang seorang wanita yang nyaris sempurna, yang telah berhasil membuat lelaki itu jatuh hati. Setiap hari Raya selalu ingin kembali ke waktu itu, kemasa dimana mereka habiskan waktu bersama.

Bandara Husein Sastranegara tak pernah lebih menyesakkan daripada hari ini. Bukan, karena ramainya pengunjung dan suara gaduh puluhan roda troli yang diseret kesana-kemari oleh para pramugari, tapi di tempat inilah ia akan ditinggalkan oleh Naya. Disinilah kata perpisahan dengan iringian sendu dan air mata akan tercipta dari dua insan yang hidup di bumi.

Sebelum berangkat, ia peluk erat Naya, dalam hati kecilnya ia berkata “Tuhan untuk hari ini saja ijinkan aku jadi hamba yang cengeng, air mataku tak bisa dibendung lagi”. Seketika itu juga punggung Naya mulai terbasahi tetes air mata Raya.

“jaga dirimu baik-baik. Aku selalu merindukanmu,” bisik Raya ke telinga kecil Naya.

Tubuhnya semakin erat memeluk Naya. Ia tau mau pelukan itu berakhir. Ia ingin lebih lama merasakan hangatnya tubuh Naya dan wangi parfumnya yang semerbak. Tapi waktu tak menyetujuinya.

Dilepaskanlah pelukan itu dengan lembut, Naya memasang wajah yang seolah tegar dengan keadaan ini. Dia tak mau menambah beban kesedihan yang dirasakan oleh Raya. 

“Aku akan selalu menunggu dan menyambut kepulangmu.” Pelan dan sedikit tersendu-sendu ia katakan pada Naya. Beberapa kata perpisahan pun terlontar dari mulutnya yang lambat laun semakin kabur tertutupi tangisnya yang semakin keras namun terasa lembut.

Lambaian tangan itu, tangisan itu, ucapan itu mengiringi kepergian Naya. Dia perlahan menghilang di tengah ramainya bandara. Sosoknya semakin hilang tak berbekas di balik pintu keberangkatan domestik.
                                                                                 
Kepergian Naya ke kota Khatulistiwa dengan waktu yang belum pasti kepulangannya, adalah sebuah jalan hidup yang telah dia ambil. Raya tak bisa melarangnya karena saat ini ia bukan alasan untuk Naya tetap bertahan disini. 

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam dan hari demi hari terasa berputar lebih lama semenjak kepergian Naya. Komunikasi mereka memang masih terjaga. Setiap malam selalu ada kabar yang datang, entah kabar dari Raya terlebih dahulu atau sebaliknya.

Semua masih terasa sama dan terjaga seperti sebelum kepergian Naya. Hingga 6 bulan kemudian, kerinduan mereka semakin memuncak. Apalagi mereka tak bertemu secara nyata setelah hari itu di bandara, hanya lewat aplikasi smartphone dengan modal kuota mereka saling berkomunikasi. Kadang mereka melakukan video call semalaman suntuk sampai salah satu dari mereka tertidur, hanya untuk melepas dahaga rindu.

Namun dahaga rindu memang tak akan hilang begitu saja hanya dengan menatap wajah seseorang di layar smartphone. Malah kerinduan itu akan semakin merindu atau semakin memudar. Merindu karena rasa rindu ingin bertemu yang tetap terjaga atau malah memudar karena salah satu dari mereka mulai terbiasa tanpa kehadiran seseorang. Memang sudah paling benar obat rindu yang paling mujarab adalah bertatap muka langsung yang dibumbui dengan pelukan hangat yang akan membuat hati nyaman dan damai.

Saat ini jarak memang jadi persoalan serius bagi mereka. Karena sebuah komunikasi tanpa kontak langsung lambat laun akan mulai meregang. Hari-hari dan bulan-bulan berikutnya komunikasi mereka semakin hambar. Bak sayur tanpa garam. Tapi mereka tetap berusaha untuk saling menjaga komunikasi. Kadang mereka hanya menyapa dipagi hari dan membalasnya di sore atau malam hari.

Semua berjalan terasa lebih lambat dari sebelumnya, hingga kabar terakhir yang didapatkan Raya adalah: Naya memberitahukan bahwa dia disana sudah menemukan teman yang hampir selalu ada untuk dia. Namanya Riga, dia bercerita Riga adalah sosok yang selalu menebar senyum dan selalu bersikap manja kepada Naya.

Sontak kabar ini membuat shock Raya. Raya berpikir bahwa Naya telah menemukan sosok pengganti dia disana. Ia mulai berkecil hati, tak ada tempat lagi di hati Naya untuk dia. Ia memang saat ini tak bisa selalu ada disamping Naya. Bukan karena tak ingin tapi jarak dan kesibukannya menjadi persoalan nyata baginya.

Setelah kejadian itu, Naya malah semakin sering menceritakan tentang Riga. Namun Raya selalu ragu untuk menanyakan siapakah sebenarnya Riga itu. Apa hubungan yang dia jalin dengan sosok yang bernama Riga itu. Ia pikir, ketika ia bertanya tentang hal itu, hanya akan membuat semakin runyam dan semakin berjaraknya komunikasi diantara mereka. Apalagi raya adalah sosok yang cukup temperamental dan agak keras kepala tapi ia selalu merasa bersalah diakhir dan menyalahkan diri sendiri.  

Naya mulai merasakan ada perubahan terhadap diri Raya. Balesan chatnya kini tak sehangat dulu. Ia sekarang jadi tak asik lagi, chatnya dibalas dengan singkat-singkat. Melihat perubahan ini Naya berpikir apakah penyebabnya karena sosok Riga yang selalu dia bicarakan. Padahal bagi Naya, Raya masih tetap menjadi orang yang dia cinta dan sayangi, karena cinta dan sayang Naya ke Riga tak lebih hanya kepada sesosok orang utan yang dilindungi negara yang kebetulan dia temui di penangkaran orang utan dekat kantor dia bekerja.

Photo Credit to bostonherald.com


Label: