Waktu Telah Mengubah Wajahku

Posted by Rulfhi Pratama on 9:44:00 PM with No comments

Sudah lama sekali aku tak dikelilingi rimbunnya pohon yang disertai nyanyian burung perkutut, Mungkin 20 tahun kebelakang aku alami ini semua. Pada kala itu perasaanku terasa lega karena udara disini menyegarkan paru-paru. Tak banyak orang yang singgah ke tempatku, hanya beberapa orang saja yang singgah. Maklum saja dulu tempatku tempat yang cukup tersembunyi dan tak mudah dijangkau. Hanya Sesekali terlihat orang tua dengan gendongan penuh kayu bakar melewati aku, tapi aku tak berani menyapa mereka, aku hanya bisa melempar senyum kepada mereka. Entah kenapa aku selalu suka dengan keadaan ini, dimana ku bisa merasa sepi dan tenang.

Tapi aku tetaplah aku yang akan kalah dengan waktu . Aku tergerus oleh waktu dan aku terdampar di jaman modern. Jaman yang katanya penuh dengan gairah, sensualitas tinggi,dan janji-janji penguasa berterbangan memenuhi sesak udara. Aku yang dulu hanya sebongkah tanah berdebu tak pernah sedikitpun tersentuh, semua sudut pandangku hanya hijau dan hijau, . Tapi kini semua telah hilang, yang aku bisa lihat hanya tembok tembok tinggi besar menghalangi pandangan. Tak bisa kulihat lagi gunung Malabar atau gunung Tangkuban Perahu. Karena aku telah berubah menjadi tempat hiburan orang-orang borju. Ketika malam minggu tiba, mereka berkumpul dan merayakan pesta layaknya tiap minggu adalah pesta tahun baru. Dari daging potong hingga daging cincang mereka pesan dan tak lupa berbotol-botol minuman untuk menghangatkan suhu badan. Mereka berpesta dengan perempuan berbaju minimalis, yang entah didapat dari gang seberang Pasar baru atau stasion kota.

Malam minggu memang selalu terasa panjang, waktu seakan berputar lebih lambat dari biasanya. Pesta akan terus berlanjut pada malam itu, berpesta untuk memuaskan dan melupakan semua beban di hari kerja. Dentuman musik akan semakin keras mengisi setiap celah kosong di sudut ruangan. Asap rokok semakin mengepul ke udara bagaikan asap pembakaran hutan yang asapnya sampai ke negeri sebrang. Aku tentu sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini yang akan terjadi setiap akhir pekan  Ketika birahi pesta sudah terpenuhi mereka tidak akan segera pulang, mereka akan memesan hotel dan mengisi stamina di ranjang dengan perempuan minimalis itu. Kadang juga mereka lakukan di bawah rembulan di dalam sebuah mobil yang akan bergoyang tiap kali mereka bertindihan. Entah berapa ronde yang mereka dapatkan, karena aku tak sempat menghitungnya.

Dan hanya matahari tibalah yang mampu mengakhiri ini semua. Semua akan menghilang bersama dinginnya malam dan aku bisa kembali  menikmati sepi walau sepi ini tak akan sama rasanya lagi.  
.    



Label: