Tuesday, June 20, 2017

Larut Dalam Sebuah Film Drama

Film bergenre drama tak jarang hanya membuat penonton mengantuk dan menguap lebih sering. Karena dalam film drama kamu tak akan menemukan efek animasi mutakhir, yang akan melahirkan kata wah dari mulutmu. Ini sudah dibuktikan oleh teman saya. Sebut saja namanya Juned. Ia selalu mengantuk dan mengantuk ketika disuguhkan film bergenre drama.

Memang bukan salah Juned. Salahkan saja mereka yang menonton film di bioskop hanya untuk bermesraan. Dalam menggarap film bergenre drama diperlukan sutradara handal. Seorang sutradara yang mampu meracik sebuah cerita yang dikolaborasikan dengan kepiawaian yang ia miliki guna menghasilkan sebuah mahakarya. Ia harus bisa membuat sebuah alur cerita dari detik pertama ke detik berikutnya semakin dalam, semakin dalam, semakin dalam, hingga penonton larut ke dalam film tersebut.

Hingga saat ini yang berhasil membuat saya meneteskan air mata hanya film Titanic. Selebihnya mata saya hanya berkaca-kaca padahal mata saya tak sedikitpun terbuat dari kaca.

Jika melihat dari setiap unsur pembentuknya, film termasuk kedalam sebuah karya seni. Sebuah karya seni yang paling rumit menggabungkan visual, verbal dan penceritaan yang begitu kompleks. Dan bisa dikatakan film adalah karya seni yang paling mendekati realitas. Karena film merupakan representasi dari dunia nyata.

Ngobrolin tentang film tak lengkap jika tidak sambil ngopi. Maka dari itu ambil dulu sana kopimu biar ga ngantuk kaya Juned. Seperti biasa, setiap selasa di Kedai Prenger memutarkan film-film anti mainstream. Setelah seminggu sebelumnya memutarkan film No One Knows About Persian Cats karya Bahman Ghobadi, kini karya ia kembali di putar dengan judul Turtle Can fly.  
 

Turtle Can Fly sendiri sebuah film yang menceritakan kehidupan kaum kurdi terutama anak-anak yang kehilangan orang tua mereka akibat perang yang terjadi antar pihak Saddam Hussein dengan tentara Amerika. Berlatar lokasi pengungsian yang terletak di perbatasan Irak-Iran. Dimana lokasi tersebut dikelilingi ranjau darat milik Amerika.

Sebuah perjuangan hidup dilakoni anak-anak yang harus menanggung beban layaknya orang dewasa. Di usianya yang masih belia mereka dipaksa untuk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Mereka bertahan hidup dengan mengumpulkan ranjau darat dan menjualnya. Tak jarang mereka harus kehilangan anggota tubuhnya ketika bertugas mencari ranjau.

Tak hanya itu saja yang menjadi sorotan di film ini. Film ini menyoroti bagaimana kehidupan seorang anak perempuan yang harus menanggung beban moril dan membesarkan anak. Seorang anak yang bukan adiknya tapi seorang anak yang lahir dari rahim ia sendiri.  Setelah si gadis kehilangan orang tuanya ia diperkosa hingga melahirkan seorang anak yang kini ia besarkan.

Dalam film ini kita bisa melihat sisi lain kehidupan yang terjadi akibat suatu perang. Dimana dentumanan peluru, dahsyatnya ledakan bom tak pernah terlihat lebih hebat dari perjuangan hidup anak-anak korban perang.     

Perang hanya menyisakan duka bagi rakyat kecil dan memberikan kesenangan bagi orang besar. Meminjam kata-kata dari George Orwell : Semua propaganda perang, semua teriakan dan kebohongan dan kebencian, datang selalu dari orang-orang yang tidak berkelahi.



Photo Credit to riff.is

Thursday, June 15, 2017

Lengsernya Pangeran Roma




Menjelang akhir musim Serie A, beredar kabar mengejutkan dari AS Roma. Bukan tentang gagalnya AS Roma meraih scudetto di musim ini. Tapi suatu hal yang lebih besar bagi Romanisti khususnya dan warga Italia pada umumnya, yakni lengsernya Pangeran Roma bernama Francesco Totti.

Jangan pura-pura ga tau siapa itu mas Totti. Totti salah satu pemain AS Roma yang paling Roma banget diantara pemain lainnya. Telah dicurahkan semua tenaga dan jiwa beliau untuk tim ini. Kalian boleh sebut saja dengan loyalitas tanpa batas.

Tuesday, June 6, 2017

Kamar Gelap


Malam yang begitu dingin menusuk kesetiap inchi tulang. Memaksa lelaki dan perempuan itu untuk masuk ke sebuah warung kopi di bilangan Pasirkaliki. Tentu warung kopi tempat yang tepat, murah dan bisa menghangatkan tubuh dari dinginnya malam.

Lelaki itu memakai baju merah bergambar kartu joker, celana jeans lusuh dengan robekkan tepat dilututnya, dan sandal capit warna hijau. Dari raut wajahnya menunjukan ia berumur sekitar tiga puluh tahunan. Sedangkan si perempuan terlihat lebih muda mungkin berumur sekitar dua puluh dua tahunan. Dia punya rambut hitam panjang terurai, tubuh putihnya ia balut dengan tank top dan paha mulus tanpa bulu ia tutupi dengan rok merah jambu, lima centimeter di atas lutut. Dia juga pakai gincu merah di bibir manisnya.

“Mau minum apa?" Tanya si perempuan
“Aku mau minum wedang jahe aja,” kata si lelaki
“Baiklah, kalau aku mau pesan kopi saja”
“Sejak kapan kamu suka kopi? Ko aku ga tau sih"
“Makanya banyakin waktu bareng aku” cetus si gadis
“Hushhh” Si Lelaki dengan nada cukup kesal

Dipanggilah penjaga warung. Penjaga warung kopi itu seorang ibu paruh baya dengan gelang emas di tangannya. Lalu si lelaki menyebutkan dengan fasih pesanannya. Tak perlu menunggu waktu lama, pesanan mereka datang. Secangkir kopi panas dan segelas wedang jahe.

“Hari ini aku belum dapat uang sepeserpun” keluh si perempuan
“Sabar, kalau sudah rezekimu pasti bakalan datang, banyakin senyum aja”
“Yaelah, apa hubungannya rezeki sama senyum”
“Ada donk, tapi aku malas beritahu kamu. Pikir aja sendiri!”

Si gadis menyeruput kopi yang ia pesan dengan nikmat. Sementara di luar hanya terlihat satu dua kendaraan yang lewat. Sinar lampu remang-remang memberikan penerangan yang seadanya di jalan sempit itu.

Berselang sepuluh menit kemudian terlihat seorang pria berdiri di dekat tiang lampu. Tentu si perempuan penasaran dengan apa yang sedang di cari si pria dekat tiang lampu tersebut.

“Aku pergi dulu yah, siapa tahu orang yang disana bisa membawa aku pada pundi-pundi uang, kamu bayarin kopi aku yah!”
“Oke, jangan lupa kunci kamarnya yah”
“Tenang aja, semua udah aman”

Lantas ia pamit pada si lelaki yang berada disampingnya dan bergegas menghampiri pria itu. Sementara si lelaki masih duduk di warung kopi, menghabiskan wedang jahenya.

“Mas, ada yang bisa saya bantu” Si perempuan sambil melempar senyum nakalnya
“Eh, mbak. Saya lagi bingung cari penginapan murah sekitar sini”
“Kebetulan sekali saya punya penginapan murah yang bisa disewa jam-jamanan atau harian”
“Boleh saya lihat dulu, mbak!”
“Boleh banget, yuk ikut saya!”

Si perempuan mengajak si pria itu untuk menuju penginapan. Mereka berjalan kaki menuju penginapan, si pria terlihat cukup heran melihat banyak sekali wanita seksi berjajar, bak semua mannequin si etalase toko. Ia ingin menanyakan pada si perempuan tapi ragu.
  
Akhirnya mereka sampai di penginapan. Lantas si perempuan membuka kunci penginapan tersebut. Terlihat seekor kucing sedang tidur di salah satu sofa, entah masuk lewat mana. Si perempuan tak mau tahu dan langsung mengusir kucing dari tidurnya yang nyenyak. Penginapan tersebut merupakan rumah dengan satu ruang tamu dan empat kamar tidur. Mereka berdua masuk ke rumah, dan kamar-kamar yang semula gelap dinyalakan.

Si pria melihat-lihat kamar yang bisa ia pilih untuk di tempati malam ini. Karena sudah terlalu capek si pria langsung memilih salah satu kamar. Setelah memilih kamar lantas si pria nego harga sewa kamar dengan si perempuan. Negosiasi berjalan cukup alot, karena si pria sudah malas keluar mencari penginapan lain, akhirnya ia menyetujui juga harganya.

Si perempuan memberikan kunci kamar kepada si pria. Dan ia meloyor keluar rumah, sambil berkata “Mas kalau cari kehangatan bisa telpon saya aja, itu nomor saya ada di meja.” Si perempuan pulang ke rumahnya yang sebenarnya tak terlalu jauh dari penginapan tadi. Dimana si lelaki di warung kopi yang merupakan suaminya sudah menunggu ia dirumah. 
Photo Credit to allsportsjewelry.info   

Friday, June 2, 2017

Kamu Datang dan Pergi Terlalu Cepat


Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh dan balik lagi ke angka satu, hingga 7 kali pengulangan. Raya masih terduduk di kursi yang hanya berjarak 2 meter dari tempat tidurnya. Kursi dengan bantal lembut sebagai alas pantatnya.Kursi juga ditemani dengan meja berbentuk lingkaran, yang hanya berjarak 1 meter di depan kursi. 
Tak seperti hari-hari yang lalu Raya menghabiskan waktu lebih lama untuk duduk di kursi kamarnya. Ditemani laptop berlogo apel separuh.  Raya mulai berselancar ke setiap software yang ada di laptopnya. Membuka folder demi folder tentunya bukan folder titip Anggi yang dibuka tapi folder yang berisi kumpulan foto dan video ia beserta teman-teman komunitasnya.

Pertama ia membuka dan melihat foto perjalanan momotoran menyusuri pantai di selatan Jawa Barat. Lalu ia melihat foto lainnya, mulai dari momotoran dalam kota,luar kota hingga momotoran antar provinsi. Matanya menatap tajam setiap foto yang sedang ia lihat. Foto yang menceritakan setiap pengalaman yang ia alami bersama teman-temannya.

Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh sebelas duabelas tigabelas foto terus ia geser, geser, geser lagi dan geser lagi. Hingga di foto ke tigaratus sembilanpuluh tujuh ia terhenti cukup lama melihat foto berlatar hijaunya sawah, berhiaskan curug kecil di belakangnya dengan seorang wanita sebagai pusat bidikan lensa.

Wanita itu bernama Naya. Naya adalah teman Raya yang ia kenal lewat komunitas yang ia ikuti. Naya seorang wanita dengan rambut hitam sebahu. Dia punya mata yang cantik walau terlihat sedikit belo. Badannya kurus tipis bisa disebut cungkring. Kalau dilihat sebelah mata mungkin mirip Mirra Killian dalam film Ghost in theShell. Tapi percayalah dia pribadi yang sangat ramah, walau kesan pertama kepada kalian akan sedikit jutek.

Seketika saja foto itu membuat ingatan Raya melayang menuju momen yang ia lalui bersama Naya. Saat itu Naya menjadi partner dalam kegiatan momotoran antar provinsi di sebuah komunitas. Momotoran yang akan berlangsung 3 hari 2 malam. Memang bukan kali pertama ia harus membonceng Naya. Sebelumnya ia pernah membonceng Naya yang kebetulan searah dan tempat yang dituju sama, yakni kedai di salah sudut Kota Bandung. Tapi percayalah perjalanan panjang inilah yang menimbulkan rasa yang berbeda.

Di jok sempit sepeda motor mereka harus saling mengakrabkan diri. Mengusir kebosanan yang hinggap di sepanjang perjalanan. Obrolan template mengawali obrolan mereka.

“Kamu sekarang lagi sibuk apa aja Ya?”
“Aku cuma sibuk tidur aja dirumah”
Seketika hening dan obrolan berakhir begitu saja. Hingga jalanan batu dan berlubang membuka obrolan mereka lagi. 
“Eh jalannya jelek banget yah, kaya lagi berkendara di sungai saat (kering) aja”
“Iya”
“Kamu tuh anak ke berapa sih?”
“Aku anak ke dua dari tiga bersaudara yang isinya cewe semua”
“Wah seru donk pasti kompak terus yah”
“Yah gitulah”

Mereka berdua kembali terdiam untuk waktu yang tak dapat ditentukan. Naya selalu membalas obrolan dengan singkat, padat dan tamat begitu saja bagi si orang yang bertanya. Karena mulai bosan akhirnya Raya mencari topik obrolan lain yang mungkin saja bisa membuka obrolan lebih panjang dan melebar. Ia mulai bercerita tentang apapun yang ia temui di sepanjang jalan. Seperti ketika melihat kumpulan awan yang membentuk sebuah bentuk abstrak dengan sedikit terkena paparan cahaya matahari. Raya bercerita bahwa awan bentuk seperti itu hanya bisa ditemui jika sedang ada bidadari turun ke muka bumi. Tentu Naya tak percaya dengan bualan receh seperti itu. “Tapi tak apa namanya juga usaha” ujar Raya dalam hati.

Tak hanya menceritakan sesuai imajinasinya. Raya juga mengkomentari rombongan motor yang menyalip dirinya, mulai dari cara mereka menyalip ataupun gaya mereka berboncengan. Semua dilakukan demi mengusir kebosananan dan rasa kantuk yang kadang melanda. Namun kalau ingat masalah mengantuk Raya selalu ingat mengenai cubitan di tangannya. Bukan tidak lain pelakunya adalah Naya,  Naya melakukan cubitan yang maha dashyat ketika Raya mulai diam dan menguap beberapa kali. Setelah nyubit Naya selalu bilang “ini demi kebaikan kita bersama yah”

Hanya senyum kecil sembari menahan sakit yang Raya lakukan untuk membalas cubitan Naya. Namun setelah peristiwa pencubitan itu semua menjadi lebih cair dan lebih dekat. Raya pun terkadang berbohong mengaku mengantuk hanya untuk dapat sebuah cubitan dan sedikit omelan dari Naya. Karena ia sangat suka melihat ekspresi wajah Naya ketika mencubit dan mengomelinya.
   
Tetapi kenangan itu entah bakal terjadi lagi atau engga. Karena kini Naya telah memutuskan untuk pergi ke Kota Khatulistiwa.Untuk waktu yang tak dapat ditentukan. Raya hanya dapat berharap dan menunggu. Dan mungkin setelah kepergian Naya kini hanya ada kosong dan debu saja di jok belakang.

Sementara itu di luar kamar Raya. Hujan mulai berjatuhan dengan cukup deras seolah langitpun ikut merasakan perasaan yang sedang di alami Raya.

Semua ingatan dan kenangan tentang Naya belum berakhir. Tetes air jatuh membasahi mata. Tetes air yang tak bisa tertahankah lagi terus mengucur hingga membasahi sebagian wajahnya. Bukan air mata Raya yang membasahi tetapi atap kamar Raya kembali bocor.


Baca juga cerita lainnya Sebatas Rindu
 

Tuesday, May 30, 2017

Nikmati Suasana Nyaman Di Little Wings Café & Library


Seberapa seringkah kalian mengunjungi café? Setiap hari, seminggu sekali atau sebulan sekali. Keberadaan café untuk saat ini bukan lagi sekedar tempat nongkrong. Saat ini beberapa café telah mengusung konsep perpaduan café dengan buku. Menyediakan buku dan memberikan ruang yang nyaman untuk membaca.

Memang masih dapat dihitung dengan jari konsep café yang memadukan dengan buku. Konsep seperti ini memang bisa dikatakan masih kurang diminati. Terlebih stigma bahwa membaca buku itu hal yang membosankan.  Tetapi ada sebuah café di Bandung yang tetap bertahan dengan konsep seperti ini. Yakni Little Wings Café & Library

Little Wings Café & Library berada di daerah Bandung Utara. Tepatnya di jalan raya Cigadung no 2. Sebuah kawasan yang mayoritasnya digunakan sebagai rumah tinggal. Maka tak heran jika cafe ini menawarkan suasana yang tenang dan udara yang cukup segar.

Akses menuju Little Wings Café & Library bisa dibilang sangat mudah dijangkau karena tak terlalu jauh dari pusat kota. Hanya sekitar 20 menit dari jalan raya PH.H Mustofa bila menggunakan kendaraan pribadi.

Ketika week end kemarin saya dan ketiga teman mengunjungi Litte Wing Café & Library. Sesampainya saya dilokasi, saya langsung melihat bangunan tiga lantai dengan gaya vintage. Sekilas dari luar café ini tak menyerupai layaknya café malah cenderung seperti rumah tinggal dengan halaman yang cukup luas.

Kami melangkah memasuki bangunan Little Wings Café & Library. Ketika pertama kali masuk langsung disambut dengan boneka teddy bear besar dan sebuah sofa cantik. Terdapat juga rak-rak kayu yang berisi puluhan buku yang bisa dibaca di tempat. Suasana lantai 1 ini seperti ruang tamu yang berkonsep girly

Karena kami membutuhkan meja yang cukup besar. Maka pelayan cafe merekomendasikan untuk menggunakan lantai 2 karena ada meja yang cukup besar dan nyaman untuk digunakan. Langkah kakipun melangkah menuju tangga. Setibanya di lantai 2 kesan Vintage langsung muncul ketika melihat kursi-kursi dan meja kayu tersusun rapi. Uniknya lagi terdapat  kursi dan meja yang memakai kayu rotan yang diletakan persis di samping jendela. Di dekat mejapun  terdapat sebuah lemari yang di isi beberapa buku keterampilan yang bisa dibaca untuk menghabiskan waktu.

Lantas kami memilih sebuah meja dengan 4 kursi kayu sebagai tempat duduk kami. Suasana di lantai 2 ini bisa dikatakan memakai konsep ruang keluarga dengan beberapa meja besar dan kursi-kursi tempat berkumpul. Terdapat juga sebuah dapur mini lengkap dengan perkakasnya dan hiasan-hiasan oldies. 

Selepas menyimpan tas kami memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. Makanan dan minuman disini memiliki menu yang bisa dibilang sangat rumahan dan cukup terjangkau. Sembari menunggu pesanan datang kami penasaran dengan konsep yang dipakai di lantai 3.

Maka kami segera menaiki tangga menuju lantai 3. Dilantai 3 Little Wing Café & Library ternyata membuat kami semakin betah dengan café ini. Karena di lantai 3 dibuat seperti kamar tidur lengkap dengan kasur, lampu zaman colonial, koper dan beberapa kursi dari kayu yang terlihat cukup tua.

Menariknya lagi setiap furniture yang ada di Little Wing Café & Library sangat kental dengan nuansa vintage. Bahkan beberapa furniture terlihat cukup langka dan rasanya hanya dapat di beli di luar negeri. 

Menurut informasi dari pelayan café, setiap lantai di Little Wing Café & Library bisa di sewa untuk mengadakan sebuah acara. Dan yang selalu menjadi tempat favorit adalah lantai 3. Terutama di sewa untuk mengadakan pesta ulang tahun.

Tidak cuma itu saja yang menarik dari café ini. Dibagian luar bangunan terdapat sebuah rumah joglo yang sangat cantik dengan beberapa ornament ukiran khas jawa. Tentunya itu masih bagian dari Little Wing Café & Library yang bisa digunakan.

Selepas puas berkeliling ke setiap sudut ruangan. Kami kembali ke meja di lantai  2 menunggu pesanan datang dan membuka buku yang kami ambil dari rak-rak buku dekat meja. Rasanya kami akan betah untuk berlama-lama membaca buku disini karena suasana yang sangat homey, sejuk dan tenang.