Thursday, November 23, 2017

Pria Berkacamata Tebal



Siang itu pria berkacamata tebal memacu motornya di Jalan Suci. Motornya ia bawa dengan laju cukup kencang. Salip kanan salip kiri. Sesekali ia menengok jam di tangan kirinya. Jamnya sudah menunjukan waktu pukul satu. Ia sudah telat. Seharusnya pukul satu ia sudah berada di kampus yang berada di Jalan Ganesha itu. Menghadiri undangan diskusi. Apadaya ia tersangkut dengan urusan perut yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. 

Terpaksa ia harus menambah kecepatan laju motornya, guna tak terlalu terlambat. Ditariklah tuas gas di tangan kanannya, belum juga tuas itu ditarik habis, ia sudah terpaksa menginjak rem. Ia sedikit mengumpat. “Anjing, karek ge rek di gas full rem saeutik, geus panggih deui wae jeung macet.”

Siang itu persis di depan lapangan Gasibu terjadi kepadatan arus lalu lintas yang cukup mengular. Entah karena apa. Polisi pun tak berada disana atau memang polisi tak pernah berjaga disana. Hampir sekitar 15 menit ia bergelut dengan kemacetan. Debu-debu jalanan yang bercampur pecahan ban, tahi kucing, bangkai tikus kian menempel di wajahnya yang berkeringat. Wajah berseri mirip Donny Damara bintang film era 90-an tak nampak lagi dari wajahnya. 

Di tengah banyaknya kendaraan yang padat merayap, Ia banyak melafalkan kata-kata penyejuk hati: anjing, bagong, jancu dan masih banyak lagi. Sembari itu juga ia melakukan manuver berkelas: salip kanan, salip kiri. “Sial memang hidup dizaman now, macet dimana-mana, mau di dunia nyata atau dunia maya sama saja bisa terjadi kemacetan.” 

Sepeda motornya menyalip beberapa kendaraan di depannya. Hingga akhirnya ia dapat menemui penyebab kemacetan, yakni sebuah mobil sedan merah yang mogok di tengah-tengah tanjakan Jalan Layang Pasupati. Mobil sedan yang dikendarai oleh sepasang suami istri. Pasangan suami istri yang belum lama ini melangsungkan pernikahan. Terlihat dari rangkaian bunga di bagian depan kap mesin yang masih belum dilepas.  

Sebagai mahasiswa teknik mesin tentu ia sangat gatal ingin bertanya kepada pasangan suami istri tersebut penyebab mobilnya bisa mogok, lalu segera memperbaikinya. Namun ia mengurungkan niat mulianya, sebab ia kini sudah semakin terlambat untuk menghadiri diskusi di kampus ITB. Hingga ia hanya bisa berdoa dalam sanubari: semoga saja dengan ijin Tuhan mobil tersebut kembali nyala. Tentu nyala bukan karena dilalap api tapi cukup mesinnya saja yang nyala. 

Dengan berat hati layaknya prajurit meninggalkan medan perang, ia menarik tuas gas sepeda motornya. Disisirnya jalanan di bawah Jalan Layang Pasupati. Setiba di lampu merah Jalan Taman Sari, ia disambut oleh musisi jalanan: pemuda yang memainkan biola. Belum dua kali reff, pemuda itu sudah menyodorkan topi ke arahnya, lantas ia dengan kalemnya membalas dengan senyum. Tentu ia lelaki yang memegang teguh mahzab “senyum itu ibadah”. Maka dari itu ia selalu mengedepankan senyum daripada uang.  

Gawai yang diletakan dalam celana jeansnya tak berhenti bergetar. Ia tahu mungkin getar tersebut dihasilkan dari puluhan notifikasi yang hinggap digawainya. Ia pun sudah bisa menebak apa isi dari notifikasi-notifikasi tersebut. Maka ia pun tak punya niatan untuk segera membuka gawainya, ia tarik kembali tuas gas sepeda motornya. 

Kali ini tak terdengar sedikitpun lantunan kata-kata penyejuk hati yang keluar dari mulutnya. Sebab setelah melewati kemacetan depan lapangan Gasibu. Jalannan aman sentosa. Maka tak perlu waktu lama ia sudah tiba di Jalan Ganesha. Di parkirkanlah sepeda motornya di depan Taman Kubus. Belum semenit memarkirkan motornya, tiba-tiba di belakang ia sudah berdiri lelaki berkumis dengan gestur menagih uang parkir. Kali ini ia tak memakai mahzabnya, sebab ia tahu senyum tersebut tak akan berhasil pada seorang juru parkir. 

Disodorkanlah uang pecahan dua ribu. “Nih mang.” Lantas ia langsung masuk ke area kampus menuju gedung pembangunan. Namun ia ingat, ia tidak tahu persis lokasi gedung tersebut berada. Akhirnya ia menanyakan pada satpam yang kebetulan sedang melintas di depannya. “Kang, bade tumaros, pami gedung pembangunan palih mananya?” 
“Oh, ini mah ada di deket gedung UPT Bahasa, akang dari sini tinggal lurus aja ikuti lorong, setelah melewati tangga masih lurus aja, setelah itu naik tangga lagi, lalu pas tidak ada tangga lagi akang belok kanan lalu belok kiri, nah sebelah kanan gedung tersebut berada.” Jawab Pak Satpam.
“Muhun, kang hatur nuhun.” Ia pun bergegas mengikuti arahan pak satpam.

Baru saja berjalan sekitar 100 meter ia menemukan jalan cagak, yang tak disebutkan oleh si satpam. Sontak jalan cagak tersebut membuat distraksi pada otaknya yang menyebabkan seketika saja ia lupa akan arahan pak satpam. Terpaksa dan sungguh terpaksa ia harus mencari orang dan bertanya lagi mengenai letak gedung tersebut. 

Kali ini seorang mahasiswi berwajah padang pasir menjadi incarannya. “Assalammuallaikum yah ukhti, maaf mengganggu sebentar, bolehkan saya bertanya? Apakah ukhti tahu lokasi gedung pembangunan ini dimana?” ia berkata. 
“Walaikumsalam, maaf mas saya tidak tahu saya bukan mahasiswi sini, saya lagi diajak temen saya kesini, untuk liat-liat kampus barunya, maaf yah mas.” Jawab gadis tersebut. 
“Oh baiklah maaf sudah mengganggu yah, silahkan melihat-lihat lagi.”

Ia tak menyerah. Kini sasarannya tertuju kepada gadis oriental.
“Mbak maaf ganggu waktunya sebentar, mbak tahu letak gedung pembangunan di sebelah mana?” Ia berkata. 
“Maaf saya tidak tahu mas, coba tanyakan ke bagian TU yang ada disana.” Jawab gadis oriental tersebut. Mungkin hari ini ia benar-benar sedang tak beruntung. 

Bukannya bertanya kepada petugas TU, pandangannya malah melimpir ke gadis berkulit langsat yang nampak ayu dari kejauhan. Berjalanlah ia menuju gadis tersebut. Belum sampai lima meter, ia mengurungkan niatnya. Perasaannya mengatakan Ia harus bertanya kepada petugas taman. Beruntunglah dekat dari gadis tersebut ada sebuah taman yang kebetulan juga terdapat sebuah lampu taman yang di bawah lampu tersebut ada petugas taman yang sedang jongkok dan mencabuti rumput liar di taman. 

“Permisi mas, ganggu sebentar, saya mau tanya lokasi gedung pembangunan di sebelah mana yah?” Oh itu mas di ujung sebelah sana, mas tinggal ikutin saja jalan ini deh.” 
“Baiklah mas terima kasih banyak yah.” 

Ia segera melihat jam di tangan kirinya, jamnya sudah menunjukan pukul dua. Ia kini sudah sangat terlambat untuk menghadiri diskusi. Saat itu juga gawainya masih terus bergetar. Namun ia tak menghiraukannya. 
Segeralah ia melangkah kaki menuju gedung tersebut. Sebab ia tak ingin lagi menghabiskan waktu sebab ia sudah sangat terlambat. Setibanya di depan gedung pembangunan ia cukup kaget, sebab gedung tersebut pintu depannya terkunci oleh gembok. Kata-kata penyejuk hati mulai keluar lagi. “Pasti ini ada yang tidak beres, jangan-jangan si Roni ngibulin urang.” Lantas ia membuka gawainya. Ia membuka surat elektronik di gawainya, kemudian membuka surat undangan diskusi tersebut, ia melihat dengan seksama. Tertera di undangan tersebut lokasi undangan Kampus ITB Jalan Raya Jatinangor. “Kampret saya salah baca, kayanya harus ganti kacamata yang lebih tebal.” (upi)
  

Tuesday, November 14, 2017

Cara Sesat Menangkal Konten Porno


Photo credit to health.clevelandclinic.org
Rasanya pemerintah kita mempunyai rencana terselubung yakni menghapuskan seks dari kehidupan warga negara Indonesia. Aksi ini bisa terlihat dari sangat gencarnya pemerintah untuk mencukur segala unsur yang berbau seks.

Negara yang katanya berkiblat keTimuran ini memang begitu cepat dan tanggap untuk urusan seks. Sedikit saja ada aroma seks maka akan menjadi bahasan serius lebih serius daripada urusan korupsi yang menggerogoti negeri ini. 

Lihat saja dengan cepatnya pemerintah setempat menutup ijin operasi Hotel Alexis yang dianggap sebagai sarang prostitusi. Lebih cepat daripada urusan menutup pabrik semen di Rembang atau proyek reklamasi.   
   
Jika berbicara seks rasanya kita masih berada ditahap paling dangkal. Sedikit saja membicarakan seks kita sudah dianggap amoral dan tak beretika. Lihat saja berapa banyak orang yang membicarakan seks ketika makan siang, jarang sekali. 

Sebenarnya seks adalah suatu kebutuhan alamiah dari setiap makhluk hidup yang berkembang biak. Jadi sudah seharusnya bisa diperbincangkan secara umum layaknya sedang membicarakan menu makan siang. Membicarakan seks bukan lagi menjadi hal yang tabu. 

Seks bukan hanya urusan penis dan vagina. Seks lebih luas dari itu. Sebagai contoh langkah apa saja yang harus dilakukan suami jika istrinya akan melahirkan, atau bagaimana menangani cara efektif membersihkan alat vital itu adalah bagian dari seks.

Untuk mengetahui hal tersebut hanya bisa didapat jika kita mendapatkan edukasi tentang seks. Bukannya malah menghindari dan menjauhkan masyarakat dari seks. Sebab jika pemerintah atau orang tua menjauhkan dari edukasi seks, malah membuat mereka yang tidak tahu akan seks mencari sendiri tentang lewat video bokep, apa itu seks dan menetapkan sendiri batasan-batasan seks. Ini yang akan menjadi malapetaka.

Keengganan untuk memperkenal seks sebagai suatu edukasi ilmiah membuat kita dibayangin ketakutan. Ketakutan inilah yang telah menggiring kita kedalam jurang kesesatan seks. Dimana ketika ada konten porno/seks harus segera diblokir. Padahal yang harus diblokir adalah mindset kita melihat seks.

Konten-konten berbau seks telah menimbulkan beberapa korban: tumblr, reddit, vimeo. Dan mungkin saja layanan pesan instan yang populer di Indonesia dan dunia: WhatsApp akan menyusul diblokir. WhatApps dilaporkan miliki konten GIF yang bernuansa porno di halaman perpesanannya. Tak pelah kabar ini sudah meresahkan para orang tua, bahkan beberapa orang tua sudah menyatakan WhatApp berbahaya untuk anak-anak mereka dan mereka menyarankan untuk tidak lagi menggunakan WhatsApp  sebagai aksi protes.
Kekhawatiran ini akhirnya sampai juga ke pemerintah yang akhir-akhir ini memang doyan blokir-blokir konten porno. Kemkominfo sebagai garda terdepan urusan blokir tentu langsung bergerak dan bertindak dengan mengirim surat ke pihak WhatApp untuk segara menghilangkan konten tersebut. 

Kekhawatiran ini rasanya terlalu lebay. Sebab, aturan di WhatApp hanya mengijinkan seseorang yang sudah berumur 13 tahun yang memiliki WhatApps. Jadi jika sampai ada anak-anak yang melihat konten porno ini berarti orang tua merekalah yang lalai. 

Terlebih para pengguna WhatApps adalah para orang berumur sudah cukup umur dan jelas memang membutuhkan konten-konten seks. Lihat saja di Jepang indutri alat-alat seks dijual belikan oleh orang dewasa. Sebab balik lagi seks adalah kebutuhan alamiah.  

Yang menjadi lucu ihwal konten porno tersebut adalah konten porno tersebut baru akan muncul jika si pengguna mengetik kata kunci “sex” dia pencarian GIF mereka. Jadi kalau si user tidak menginkan konten porno maka tidak akan muncul dengan sendirinya. Kasusnya sama saja dengan jika kita mengetik kata kunci “sex” di mesin pencari google maka akan keluar konten-konten berbau porno. Maka dengan begitu tutup juga mbah goggle.

Untuk urusan konten porno tidaklah bisa diberantas 100%. Sebab selama masih ada yang mencari konten porno maka konten porno itu akan terus hidup. Konten-konten porno menjadi kebutuhan manusia modern untuk memenuhi hasrat seksnya. Yang perlu dilakukan adalah memberikan pengetahuan dan edukasi mengenai seks, agar masyarakat bisa memperlakukan konten porno sesuai tempat dan kebutuhan. 

Sebab edukasi ini akan mencerahkan pemikiran kita akan urusan seks. Dan akan menghilangkan anggapan seks adalah urusan kotor yang tidak perlu diperbincangkan.
Tentunya edukasi seks telah dilakukan di negara-negara maju. Bahkan pentingnya edukasi seks sudah terlihat dari ribuan tahun silam. Misalnya di China terdapat buku Su Nu Ching ­yang sudah ada sejak 5.000 tahun silam. Buku ini berisi pedoman Tao mengenai seks. 

Menurut pakar pengobatan tradisional China dan penulis buku The Tao of Sexology. Seks yang benar akan menunjang seseorang untuk mencapai umur panjang. Pemikiran ini sejalan dengan kedokteran modern. Yang membuktikan seks erat kaitannya dengan kesehatan. 
Jadi rasanya sungguh tidak masuk akal jika kita masih menganggap seks jelek bagi bangsa. Ketakutan berlebih akan konten porno belakang ini disebabkan tidak tahunya akan seks itu apa. Sebagai contoh kita akan selalu takut berada dalam kegelapan karena kita tidak tahu apa yang sedang terjadi. Andai saja kita mempunyai lilin dan mengetahui gelap itu apa, kita tidak akan lagi takut. 

Sekali lagi edukasi tentang seks akan menjadikan titik cerah bagi kita semua. Sebab seks bukan hanya urusan selangkangan tetapi soal kesehatan reproduksi dan cara berkembang biak. Mari bebaskan Indonesia dari ketakutan konten seks yang hanya akan membuat kita tak bergerak kemana-mana.  

Sunday, November 12, 2017

Transmart Carrefour


Photo Credit to skyscrapercity.com
Perkembangan pusat perniagaan di Kota Bandung dan sekitarnya terasa melaju lebih pesat. Hampir setiap tahun saya bisa melihat mall-mall baru mulai tegak berdiri. Tanah yang dulunya lahan kosong atau bangunan tak terurus disulap menjadi sebuah pusat perbelanjaan.  
Lantas semakin menjamurnya mall tak membuat saya jadi lebih bahagia. Entah karena saya dilahirkan di pinggiran Kota Bandung yang saat itu masih minim mall. Hingga menjadikan sebuah mall tempat yang masih asing bagi saya. Kunjungan ke mall hanya saya lakukan ketika ada film baru di bioskop, itupun masih bisa dihitung dengan jari.  

Belum lama ini hadir pusat perbelanjaan yang dibangun oleh pengusaha sukses Chairil Tanjung si anak singkong. Yakni Transmart Carrefour. Pembukaan Transmart Carrefour bisa dibilang sangat meriah.  Jalan terusan Buah-batu Bojongsoang yang biasa macet, saat itu juga bertambah macet ketika pembukaan Transmart Carrefour.

Lantas kemeriahan pembukaan Transmart Carrefour saat itu tak menggerakan langkah kaki saya untuk pergi kesana.  Padahal jelas ketika pembukaan tersebut mall ini digadang-gadang akan menjadi pusat perbelanjaan yang lengkap. Dan menawarkan banyak potongan harga besar-besaran. Mungkin saja kelengkapannya akan mengalahkan mall-mall yang lebih dulu ada di kota Bandung.

Mungkin berselang lima bulan setelah pembukaan Transmart Carrefour saya dan seorang kawan baru berkesempatan menginjaki kaki di tempat ini. Ekspetasi tinggi sempat menghampiri ketika masuk ke tempat ini. Wajar saja karena parkiran yang begitu luas menjadi pemandangan pertama yang kami lihat ketika masuk untuk memarkirkan sepeda motor. “Ini tempat udah kayak pabrik ya?” tanya saya kepada kawan. Mungkin saja dalamnya lebih luas dan megah.

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama mengunjungi Transmart Carrefour. Sebelumnya, saya sempat melewati Transmart Carrefour yang berada di daerah Cimahi saat hendak menuju Padalarang. Memang, sepenglihatan saya, Transmart Carrefour yang berada di Cimahi juga menawarkan parkiran yang luas. Apakah ini menjadi daya tawar pertama dari pihak Transmart Carrefour?

Transmart Carrefour bukan saja menjadi tempat berbelanja tapi menjadi alternatif untuk bermain bagi generasi Z. Pusat perbelanjaan dengan 4 lantai ini menyediakan beberapa kebutuhan masyarakat. Lantai dasar menjadi area restoran yang menyajikan berbagai makanan. Di lantai pertama menjadi tempat semua kebutuhan pokok dan beberapa barang elektronik tersedia disini. Kemudian di lantai tiga menjadi tempat para konsumen untuk memenuhi kebutuhan fashion. Dan di lantai paling atas menjadi arena bermain, dan menjadi tempat paling favorit bagi anak-anak. 

Tak memakan waktu lama untuk memutari seluruh sudut Transmart Carrefour Bojong Soang. Walaupun parkirannya cukup luas nyatanya area bangunan di dalamnya tak lebih luas dari parkirannya. Di area dalam kami rasa masih banyak area kosong yang kurang dimaksimalkan oleh pihak pengelola. Setelah puas berkeliling, kami memutuskan untuk mencari makan diluar saja karena di area makanan Transmart tak tersedia area untuk membakar tembakau.

Hingga kami berjalan-jalan di depan yang ternyata cukup banyak penjaja makanan yang membuka usaha. Pandangan kami langsung tertuju ke sebuah warteg, yang kebetulan rekan saya pengen makan yang berat-berat. 

“Dulunya lahan yang dipakai oleh pihak Transmart Carrefour Bojongsoang ini merupakan sawah yang luas,” begitu yang dibilang oleh penjaga warteg yang berlokasi tak jauh dari Transmart Carrefour Bojongsoang, saat saya berbincang-bincang dengannya sambil ngopi.

Mengambil contoh beberapa titik lokasi yang menjadi tempat berdirinya Transmart Carrefour ini, ada kecenderungan jika management dari pihak PT Trans Retail Indonesia yang menaungi Transmart Carrefour tersebut memang mengincar lokasi-lokasi yang tidak terlalu padat. Seperti menghindari lokasi tengah kota, ini bisa dilihat dari beberapa lokasi Transmart Carrefour yang ada di wilayah Bandung Raya: Transmart Carrefour Cibiru, Transmart Carrefour Cimahi, dan Transmart Carrefour Bojongsoang.

Memang perlu informasi pasti mengenai hal ini, lebih tepat jika langsung menanyakan kepada pihak managementnya. Namun saat mengunjungi tempat ini kemarin, saya tidak menemukan orang yang bisa saya tanyai. Lagi pula kedatangan saya di saat weekday membuat tempat ini tidak terlalu ramai.

Selain penempatan lokasi, konsumen yang “diincar” juga saya rasa berbeda dengan retail yang berada di tengah kota. Mungkin ini juga termasuk ke dalam strategi bisnis dari pihak Transmart Carrefour. Mereka ingin “merangkul” warga pesisir, bahwa tempat belanja dan juga bermain bisa dinikmati tanpa harus pergi ke tengah kota.

Keberadaan Transmart Carrefour di kawasan Bojongsoang ini juga boleh jadi merupakan pemicu pedagang-pedagang kecil di sekitar jalan raya Bojongsoang. Tak hanya para pedagang yang berada di depan SDN Cipagalo, yang sepertinya memang sudah cukup lama berjualan di daerah situ, tapi di sepanjang trotoar juga marak para pedagang lainnya seperti penjual kopi, mie ayam, warung-warung kecil dan masih banyak lagi.

Bahkan warteg tempat saya ngopi dan berbincang tadi merupakan warteg yang baru buka sekitar satu bulan. Warteg tersebut merupakan cabang dari warteg utama yang berada di daerah Tegallega. Ditambah saat saya berada di warteg itu, beberapa karyawan berseragam yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bekerja di Transmart Carrefour sedang menikmati makan sambil ngobrol dengan teman-temannya.

Warteg tempat saya ngopi itu seolah mencium pangsa pasar yang ditimbulkan oleh keberadaan Transmart Carrefour, yakni para karyawan yang mencari makan di jam-jam istirahat. Maka bisa dibilang keberadaan Transmart Carrefour di Bojong soang telah memicu para usaha kecil untuk membuka usaha dan menjadi garda terdepan bagi ketahanan pangan para pekerja Transmart Carrefour. (preanger.id-aka-upi)

Friday, November 10, 2017

Sebaiknya Kita Tak Ikut Perayaan Hallowean

Photo credit to bilnye.com
Tadi sore saya mendapatkan pesan WhatApps dari seorang teman yang menanyakan akan memakai kostum apa di perayaan Halllowean nanti. Saya cukup bingung sebab saya tak terlalu antusias mengikuti acara tersebut, namun kadung menerima tantangan saya harus memenuhinya. 

Pesta kostum hallowean sering kali diadakan di beberapa kota besar di Indonesia: Jakarta, Bandung, Surabaya. Teman saya memang sangat senang setiap kali ada pesta kostum selalu antusias mengikutinya. Bahkan dalam lemarinya terdapat beberapa kostum yang siap digunakan, namun jarang sekali dia memakai kostum hantu khas Indonesia.
Padahal kalo urusan hantu dan mistik Indonesia memiliki akar yang sangat kuat. Bahkan hingga sekarang masih banyak yang percaya pada dunia mistik. Tempat, petilasan, makam, pohon, gunung, atau bangunan yang dikeramatkan dan disakralkan karena dipercaya dihuni oleh kekuatan makhluk tak kasat mata, selalu dihormati, dipelihara, dan dijaga oleh orang-orang yang hidup
Bahkan kepercayaan tersebut masih melekat di generasi milineal. Lihat saja film remake pengabdi setan dari film dengan judul yang sama diserbu dan ditonton oleh jutaan kids jaman now. Film tersebut dapat membangkitkan film mistik yang hampir mendapat stigma dengan adegan berbau paha dan dada wanita menjadi film yang benar-benar horror.
Efek dari film tersebut cukup berdampak ke dunia nyata. Lokasi yang dijadikan syuting pengabdi setan bahkan menjadi tujuan destinasi bagi kids jaman now yang penasaran dengan hal-hal yang berbau mistik. Orang-orang yang penasaran mulai mencari pengalaman untuk bersentuhan dengan dunia tak kasat mata.    
Membicarakan lokasi syuting pengabdi setan saya jadi teringat dengan beberapa tempat di Kota Bandung yang menyimpan kisah misteri atau sering kali disebut urban legendnya Kota Bandung oleh masyarakat Bandung.
Beruntunglah dihari minggu kemarin ada sebuah komunitas yang mengadakan city tour yang akan mengangkat cerita urban legend di Kota Bandung dan mendatangi tempat-tempat cerita tersebut berasal. City tour ini pun diadakan pada malam hari untuk menambah kesan horror yang dirasakan setiap peserta. 
Nama tour tersebut bernama Legenda Urang Bandung. Pada city tour ini akan mengajak para peserta mendatangi tempat-tempat yang cukup terkenal dengan cerita urban legendnya.
Sebut saja rumah yang selalu tercium aroma kentang, jalan yang sering kali dilewati rombongan prajurit Belanda, sampai pada noni Belanda yang mendiami sekolah terkenal di Kota Bandung. Cerita-cerita tersebut tetap hidup di tengah kondisi Bandung yang terus berbenah menjadi kota modern.
Namun ada yang sedikit berbeda dari city tour ini. Sebab dalam city tour ini bukan saja diceritakan kisah mistiknya tetapi para peserta diberi pengetahuan akan latar belakang dari tempat tersebut. Latar belakang atau asal mula tempat tersebut menjadi penting agar kita selalu senantiasa menjaga warisan dari nenek moyang kita. 
Sebab bagaimanapun nenek moyang kita adalah yang menganut akan kepercayaan bahwa benda-benda memiliki jiwa dan nyawa. Sisi baiknya adalah nenek moyang kita menjadi manusia yang penuh kehati-kehatian dan berperilaku sesuai dengan tata krama yang berlaku di daerah tersebut.
Sebagai contoh saja pada pada pertengah lalu saya berkesempatan untuk mendatangi sebuah Kampung Adat Cireundeu yang berlokasi tak jauh dari Kota Bandung. Tepatnya lokasi kampung adat ini berada di selatan Kota Cimahi. Saya kesana untuk melihat rangkaian acara tutup tahun saka sunda.
Kampung Adat Cireundeu masih memegang teguh kepercayaan dan adat istiadat mereka. Ini terlihat dari mereka yang tak makan nasi tetapi makan singkong. Konon seratus tahun kebelakang nenek moyang mereka sudah menjadikan singkong sebagai makanan pokok, dan masyarakat kampung tersebut masih menjaga itu. Ketika pemerintah sibuk mengatasi produksi beras yang menurun dengan mengimpor beras, masyarakat Cireundeu sama sekali tidak cemas. 
Mereka pun hidup selaras dengan alam sekitar, mereka mempunyai Leuweung (hutan) Larangan yang tidak boleh dimasuki karena pamali, kemudian mereka mempunyai Leuweung Baladahan yang digunakan warga untuk berladang, dan Leuweung Tutupan yang dimanfaatkan warga secara bertanggung jawab.Yang dimaksud bertanggung jawab adalah ketika mereka menebang satu pohon maka mereka wajib menanam satu pohon sebagai gantinya. 
Warga kampung Adat Cireundeu pun tidak menutup diri dari kemajuan teknologi. Mereka hidup berdampingan dengan teknologi, namun tetap memegang teguh adat yang berlaku. Mereka mengajarkan pentingnya sebuah landasan jika ingin menyerap suatu hal yang baru agar identitas diri atau jati diri tetap terjaga dan tak tergerus zaman.  
Mochtar Lubis dalam pidatonya di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 6 April 1977 menyebutkan bahwa seluruh kepercayaan tersebut kemudian tumbuh menjadi adat dan budaya membentuk pola pikir dan menjadi ciri manusia Indonesia.
Lihat saja terjaganya adat oleh masyarakat Bali menjadikan adat mereka daya tarik untuk mendatangkan wisatawan luar negeri. Bayangkan saja jika seluruh kids jaman now disetiap penjuru tanah air mampu menjaga warisan tersebut dapat menjadikan Indonesia lebih Indonesia banget.
Mungkin kids jaman now harus belajar sama Nella Kharisma; penyanyi dangdut koplo asal Jawa Timur yang masih menjadi kepercayaan terhadap hal mistik  lewat lagu Jaran Goyang. Tak Cuma itu kamu bisa sambil bergoyang dan melupakan bagaimana rasanya patah hati.
Maka sebenarnya perayaan hallowean adalah perayaan yang bukan Indonesia banget. Hallowean tidak pernah hidup di Indonesia tapi kita harus bangga dengan tradisi-tradisi yang diwariskan nenek moyang kita. Ayo goyang dulu.  

Thursday, November 9, 2017

Pemuda yang Bersumpah Pemuda


Photo credit to tekno.liputan6.com
Rasanya semua orang yang pernah sekolah sudah pasti pernah mendengar dan tahu mengenai sumpah pemuda. Sumpah pemuda ini berawal dari kongres pemuda yang dilakukan di Batavia selama dua hari 27-28 Oktober 1928. Sumpah pemuda ini menjadi salah satu tonggak pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini pun dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.
Sumpah pemuda pun menjadi bukti bahwa pemuda  mempunyai peranan yang penting dalam pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Tapi sebelum panjang dan melebar, warganet masih ingat isi dari sumpah pemuda. Kalau tak inggat biar saya kasih tahu deh :
1. Kami putra-putri Indonesia mengakui satu tanah air, tanah air Indonesia.
2. Kami putra-putri Indonesia mengakui satu bangsa, bangsa Indonesia.
3. Kami putra-putri Indonesia mengakui satu bahasa, bahasa Indonesia.
Gimana sudah ingatkah? Kalau sudah ingat jangan dilupain begitu aja kaya mantan. Namun yang jadi pertanyaan pemuda seperti apakah yang masih mengobarkan semangat sumpah pemuda di jaman now. Generasi Y kah atau generasi Z atau para mahasiswa yang rajin berunjuk raya menyuarakan segala suara.
Rasanya jika membicarakan pemuda dijaman now rasanya tidak bisa melepaskan dari dunia persosial mediaan. Dimana para pemuda sekarang sedang menikmati jerih payah dari para pemikir yang berhasil mengebangkan  teknologi; Internet. Internet jauh lebih memanjakan dan setia dibanding kekasih, ia selalu dekat bahkan pertama kali bangun tidur pasti melihat internet.
Ketergantungan akan internet ini menjadi sebuah sisi mata pisau. Bila dapat memanfaatkan akan menjadi buah yang segar untuk dipanen. Lihatlah Raditya Dika yang semakin sukses dengan memanfaatkan internet secara positif. Namun ada juga yang malah hancur lebur karena internet; hoax dimana-dimana, bulliying, penyebaran video bokep.
Berdasarkan pemikiran saya yang paling ideal dijamana now sebagai cerminan dari semangat sumpah pemuda, adalah pemuda yang miliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.     Rajin menulis
Tentunya seseorang yang rajin menulis sangat cocok dengan kriteria yang disebutkan dalam sumpah pemuda. Sebab para penulis senantiasa selalu memperhatikan kata demi kata dari bahasa Indonesia dari setiap tulisannya. Bahasa Indonesia dijunjung setinggi-tinggimnya oleh penulis. Untuk menjadi seorang penulis pun diharuskan menjadi seorang yang akan haus membaca buku daripada berkomentar di sosial media. Membaca membuat  para penulis memiliki pandangan lebih luas dalam menyikapi masalah yang sedang terjadi di Indonesia. 
Kenapa membaca begitu penting. Sebab orang-orang hebat yang kini menciptakan internet adalah orang-orang yang rajin membaca. Para pendiri bangsa Indonsia pun merupakan orang-orang yang gemar membaca dan menulis. Tidak jarang juga mereka saling beradu argumentasi lewat tulisan yang dimuat di koran agar pandangannya bisa dibaca khalayak umum.    
2.    Suporter Timnas
Sebagaimanapun supporter timnas adalah orang-orang yang loyal. Banyak yang rela menghabiskan uang untuk menonton pertandingan secara langsung di stadion. Anda bisa lihat sendiri  ketika Timnas Indonesia main di Senayan, puluhan ribu kursi penonton  terisi penuh dengan semangat nasionalisme. 
Nasionalisme jelas sangat penting untuk dimiliki para pemuda jaman now. Sebab ini menjadi suatu kecintaan akan tanah air mereka; Indonesia. Banyak yang bilang kalau sudah cinta apapun bisa dilakukan. Jadi cintailah Indonesia seperti kamu mencintai kekasihmu, yah kalau jomblo cari dulu sana kekasihnya.
Mereka pun selalu siap mendukung timnas dikala jatuh dan bangkit lagi. Lihat lah penampilan angin-anginan timnas Indonesia yang paceklik juara. Tetapi para supporter tetap saja mendukung dengan semangat menggebu-gebu.  
Pemuda gondrong
Ini mungkin diluar nalar orang biasa. Ko bisa-bisanya memasukan orang gondrong ke dalam cirri-ciri pemuda yang bersemangat sumpah pemuda. Eits tunggu dulu, saya kasih pencerahan deh. Jadi gini orang gondrong adalah orang yang sabar dan penuh perhatian. Sebab untuk memanjang rambut perlu perjuangan bung. Anda harus siap keramas dan sisiran setiap harinya.
Jadi para pemuda gondrong sudah terlatih dari tahap yang paling dasar dari makna sebuah perjuangan . Hingga kelak mereka akan lebih menghargai perjuangan para pendahulunya yang telah memerdekaan Indonesia dari kaum penjajah. Setiap helai rambut gondrongnya terdapat semangat pemuda yang cinta tanah air. 
Ciri tersebut tidak mutlak adanya sebab pemuda-pemudi salah satu manusia yang sulit dimengerti di muka bumi. Banyak para pemuda-pemudi yang putus karena alasan kamu terlalu baik buat aku. Namun percayalah pemuda-pemudi menyimpan semangat dalam dirinya yang kadang-kadang semangatnya tersimpan rapat hingga dirinya sendiri dan orang lain tak ada yang tahu.
Indonesia butuh pemuda-pemudi yang peka dengan kehidupan sosial disekitar, bukan peka di kehidupan sosial media yang fana itu. Kita lihat kebelakang beberapa aksi pemuda mampu menyadarkan dan membuat gerah para petinggi yang tidak betul kerjanya.
Kita memang tak perlu membuat sumpah pemuda tandingan; sumpah pemuda milinel tetapi kita cukup menerapkan semangat dan cita-cita mulia dari sumpah pemuda. Sebab mau bagaimana pun pemuda-pemudi adalah penggerak negeri ini. Jika penggeraknya mandek bagaimana bisa maju bangsa Indonesia.
Pemudapun harus mau mendengar kata orang tua, sebab dengan restu orang tualah pemuda kan menjadi hebat. Siapkah para pemuda untuk bersumpah?  

Wednesday, October 11, 2017

Resensi Braga Jantung Parijs Van Java

Tepat 24 September 2017 lalu, Bandung merayakan ulang tahunnya yang ke 207. Usia yang bisa dibilang masih sangat muda untuk ukuran sebuah kota. Meskipun begitu sudah banyak peristiwa yang dilalui oleh kota dengan sebutan Parijs van Java ini. Bandung kini tumbuh menjadi kota besar tempat semua suku dan budaya tumpah ruah.  

Kota yang dikelilingi gunung-gunung seolah tak pernah sepi dari hiruk pikuk manusia. Ada yang singgah untuk menimba ilmu, ada yang singgah untuk bekerja dan ada pula yang singgah lalu menetap untuk benar-benar menetap. Semua menjadi bagian dari Bandung dan itulah orang Bandung.

Selain itu Bandung kini menjadi kota tujuan wisata pelancong domestik dan pelancong mancanegara. Salah satu wisata yang paling digemari para pelancong adalah wisata belanja. Potensi wisata belanja ini tak datang begitu saja. Di dalam buku Braga Jantung Parijs van Java dijelaskan Bandung di medio 1920-an mulai dibangun jajaran pertokoan yang terletak di Jalan Braga. Jajaran pertokoan ini kelak akan ramai dikunjungi oleh noni dan tuan Belanda.

Cikal bakal lahirnya Jalan Braga bermula pada awal abad ke-19, yaitu seorang PreangerPleanters (tuan kebun Priangan kaya bernama Andries de Wilde menguasai tanah di hampir seluruh wilayah Kota Bandung saat ini. Ditanah miliknya, Andries de Wilde banyak membuka perkebunan, terutama perkebunan kopi. Ia pun membuat gudang penyimpanan kopi di area yang sekarang menjadi kompleks Balai Kota.

Untuk mendistribusikan kopi di gudangnya ia memerlukan jalan yang menghubungkan ke Jalan Raya Pos yang merupakan  jalan utama di Pulau Jawa saat itu. Kemudian secara bertahap jalan yang menghubungkan Jalan Raya Pos dengan gudang kopi de Wilde diperluas dan diperbaiki.

Awal mulanya jalan ini hanya jalan setapak. Namun seiring berkembangnya wilayah tersebut. Jalan  tersebut  semakin ramai dan banyak dilalui  oleh angkutan pedati yang merupakan sarana transportasi paling banyak digunakan saat itu. Sebab banyak dilalui pedati, orang-orang menyebut Jalan Pedati atau istilah Belandanya Karrenweg.

Nama Jalan Braga sendiri mulai dipergunakan pada tahun 1882. Nama Braga sendiri konon diambil dari kelompok kesenian bernama Toneelvereeniging Braga. Kelompok kesenian yang sering melangsungkan pertunjukan-pertunjukannya di Gedung Societeit Concordia atau yang kita kenal sebagai Gedung Merdeka.

Dari sanalah nama Braga terus dipakai hingga kini. Berada di tusuk sate antara Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika berdiri Toko de Vries. Toko de Vries toko berdiri paling selatan di Jalan Braga. Toko ini menjual segala macam kebutuhan sehari-hari mulai dari peralatan dapur, makanan, dan minuman, kain, sepatu, alat-alat tulis dan buku hingga obat-obatan.

Seiring berkembangnya kota, de Vries harus bersaing dengan toko-toko lain yang mulai bermunculan di sekitar Alun-alun hingga sepanjang Jalan Braga. Maka, pada dekade berikutnya de Vries tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan.       

Melangkah lebih utara Jalan Braga. Terdapat Toko A.S Roth & Co. Toko ini mempunyai cerita menarik yang berhubungan dengan julukan Kota Bandung. Sebuah tulisan mengatakan bahwa A.S Roth sebagai pemilik toko adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah “Parijs van Java” untuk mempromosikan produk jualannya di pasar malam  tahunan Jaarbeurs 1920. Konon setelah peristiwa tersebut, Bosscha sering mengutip istilah ini dalam berbagai kesempatan sehingga menjadi popular sebagai julukan Bandung hingga kini.

Citra Bandung sebagai Parijs van Java semakin dikuatkan, karena di medio tersebut ada toko Au Bon Marche  Modemagajizn yang sangat terkenal sebagai toko mode terkemuka. Mode pakaian yang dijual di toko ini berkiblat pada trend mode di Paris. Maka tak ayal membuat Kota Bandung semakin kental dengan aroma Paris.

Selain terdapat pertokoan yang menjual pakaian. Di lintasan Braga pun terdapat restoran yang terkemuka saat itu, yakni Maison Bogerijen. Kafe-restoran ini memiliki bangunan bergaya rumah tradisional Eropa yang megah.

Restoran ini menjadi restoran paling elit seantero kota. Konon restoran ini mendapat piagam-restu langsung dari Ratu Belanda. Terdapat kalimat “Hofleverancier van h.m de Koningin der Nederlanden en Zijne Exellentie G.G. van Ned. Indie” dalam iklan Maison Bogerijen. Ini menunjukan bahwa Kerajaan Belanda dan Gubernur Jendralnya di Hindia Belanda berlanggan pada restoran ini. Maka tak heran jika Maison Bogerijen menjadi satu-satunya restoran yang diizinkan untuk menyajikan hidangan istimewa khas kerajaan seperti Koningin Emma Taart dan Wilhemina Taart yang tidak bisa dijumpai disembarang tempat.

Kini tak bisa lagi menjumpai bangunan tradisional Eropa tersebut, karena  di tahun 1960-an bangunan ini dipugar. Selanjutnya dilanjutkan oleh restoran Braga Permai yang merupakan terusan dari Maison Bogerijen. Namun Braga Permai masih mempertahankan beberapa panganan ringan dengan resep tempo dulu.  

Wajah Jalan Braga sudah banyak mengalami perubahan. Beberapa bangunan sudah tergantikan dengan bangunan yang lebih baru. Hanya tinggal beberapa saja yang masih meninggalkan gaya arsitektur era kolonial.   

Membaca buku Braga Parijs van Java karya Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha akan membawa kita menyelami kejayaan Jalan Braga di masa lalu. Selain itu lewat buku ini kita dapat melihat, menelusuri dan mempelajari mengenai pengelolaan sebuah kota. Bagaimana sebuah kota dibangun dengan jajaran pertokoan yang rapi, asri dan nyaman.

Jalan Braga kini tetap mempesona walau sudah melewati masa kejayaannya. Peninggalan-peninggalan sejarah di sepanjang Jalan Braga sudah seharusnya kita jaga bersama. Peninggalan sejarah tersebut merupakan artefak yang mengingatkan bahwa Bandung telah melewati sejarah panjang. Sejarah panjang itu menjadi identitas untuk mengembangkan Kota Bandung menjadi lebih maju.